Berguru Pada Sang Pengusaha

Senin, Oktober 13, 2008

Hari kamis tanggal 9 Oktober 2008 kemaren, saya dan sahabat almer menemui salah seorang pengusaha sukses di Bandung. Sengaja saya menemui pengusaha tersebut untuk belajar sekaligus menjajaki kemungkinan untuk bekerja sama dengannya.

Di awal pertemuan sang pengusaha tersebut kurang bersahabat, mungkin itu dilakukannya sebagai bentuk kewaspadaannya. Seiring dengan mengalirnya pembicaraan sang pengusaha mulai akrab bahkan memberikan beberapa pelajaran bagi saya. Sungguh di luar dugaan karena saya mendapatkan sedikit lebih banyak dari apa yang diharapkan dari pertemuan tersebut.

Beberapa pelajaran tersebut adalah jika kita ingin menjadi pengusaha yang penting itu ACTION dan jangan OMDO yaitu Omong Doank. Banyak diantara kita yang punya rencana-rencana bisnis, namun sayang hanya sebatas rencana dan tidak pernah ada yang namanya pelaksanaan. Jadi ACTION itu penting.

Selain action, Kedua harus NARSIS. Nah lho?? katanya sebagai seorang pengusaha kita harus bangga pada diri kita sendiri dan jangan sampai kita mengecilkan diri kita. Ketiga sebagai pengusaha kita harus bekerja lebih keras di bandingkan dengan karyawan. Kalau Karyawan bekerja seminggu 5 hari (senin-jum’at) dan perharinya bekerja 8 jam, kita sebagai pengusaha harus bekerja seminggu 7 hari dan 24 jam dalam sehari. Jadi intinya kita harus BEKERJA KERAS dan BEKERJA CERDAS tentunya.

Keempat kita sebagai pengusaha harus BERBAGI, mulai dari berbagi ilmu hingga berbagi rizki karena dengan begitu akan timbul rasa syukur. Jangan takut tersaingi dan jangan takut miskin. Kelima kita sebagai pengusaha kita harus menanamkan ISME kita pada pasangan kita. Ini penting karena untuk menjaga keharmonisan keluarga.

Terakhir adalah STAMINA. Sebagai seorang pengusaha kita harus punya semangat namun diatas semangat masih ada stamina. Maksudnya dalam melakukan sesuatu kita harus bersemangat dan harus terus bersemangat. Tapi sampai dimana semangat itu ada, sampai kapan semangat itu akan bertahan. Intinya Kita sebagai pengusaha harus punya stamina dalam menjaga supaya tetap bersemangat. Saya baru mendapatkan pelajaran berharga tentang stamina ini. Sungguh pertemuan yang sangat bermakna.

Antara Professional dan Pengusaha

Senin, Agustus 25, 2008

Jam menunjukkan pukul dua belas siang dan adzan zuhur pun berkumandang. Setelah menunaikan sholat zuhur, saya segera berangkat menuju sebuah kafe di daerah Sarinah Jakarta untuk menemui seorang teman. Saya masih ingat sekali ketika pertama kali datang ke sana, saya agak kikuk. Terlebih sebelumnya teman bercerita bahwa kafe tersebut sering didatangi orang-orang penting.

Begitu sampai di kafe saya langsung pesan teh susu untuk menemani saya hingga teman saya datang. Disana saya melihat kafe tersebut cukup ramai.  Sempat terlintas  di pikiran  saya,  apakah  mereka pengusaha yang sedang ketemu mitra bisnisnya atau apakah mereka seorang professional yang sedang ketemu klien, Apakah mereka orang-orang penting seperti yang dikatakan teman saya itu.

Belum sempat pertanyaan itu terjawab, tiba-tiba saja teman saya datang. Tidak seperti biasanya jika kami janjian ketemu di kafe itu kami pasti menghabiskan waktu 2-3 jam untuk membicarakan banyak hal, mulai dari realis hingga yang idealis. Namun rabu itu kami hanya sebentar dan segera meninggalkan kafe tersebut, karena pukul empat sore kami janji bertemu dengan teman-teman dari UI di sebuah kafe buku di Margonda Depok.

Di perjalanan kami di telepon oleh salah seorang teman kami yang sedang mengalami dilema. Singkat cerita  dia ini sudah mengundurkan diri dari sebuah perusahaan telekomunikasi demi mengejar mimpinya untuk menjadi pengusaha, namun pihak perusahaan belum mengabulkan keinginannya. Yang terjadi malah pihak perusahaan memberikan cuti selama sebelas hari, dan selama cuti tersebut diharapkan dia mempertimbangkan rencananya untuk mengundurkan diri. Jadi dia ini lagi mengalami dilema antara memilih menjadi professional atau menjadi pengusaha.

Kemudian saya bertanya sama dia “Kamu ingin menjadi professional atau pengusaha ?”, namun sayang jawabannya kurang jelas, dia malah balik bertanya kepada saya “Fahmi ingin menjadi professional atau pengusaha ?”. Saya menjawab pertanyaan itu dengan pertanyaan lain ” Hari ini hari apa ?”, dia jawab “Rabu”. saya melanjutkan “oke kalau hari ini hari rabu kayaknya saya tidak harus menjawab pertanyaan apakah saya ingin menjadi professional atau pengusaha”. Dia berkata “iya, kalau jadi professional, Fahmi pasti lagi ngantor”. Saya hanya tersenyum mendengarnya, karena bukan saya yang menyimpulkan tersebut. Terlebih lagi bahwa sebenarnya saya bekerja di salah satu perusahaan, dan karena jadwalnya shif-shif an jadi rabu itu saya lagi libur. hehe

Ketika di tanya tentang “Apakah kamu ingin menjadi professional atau manjadi pengusaha?”, saya jadi teringat ketika saya di wawancarai kerja. Waktu itu saya jawab “saat ini professional, tapi nanti apabila ada kesempatan untuk menjadi pengusaha kenapa tidak”. Masih ketika di wawancarai pernah ditanya “Apa akan bisa?”, Saya jawab dengan pede “Bisa, ini masalah peran dan pengaturan waktu saja dan saya yakin bisa mengatasi masalah itu”. Terbukti  saya di terima  kerja.

Setelah kurang lebih dua bulan menjalani status saya sebagai professional, saya sangat menikmatinya bahkan boleh di bilang beruntung diterima kerja di perusahaan ini. Saya bekerja begitu nyaman, banyak energi saya yang bersisa, bahkan sempat saya berpikir apakah ini yang dinamakan “zona nyaman”.

Akhirnya saya mencoba untuk mencari usaha sampingan untuk menyalurkan energi yang masih tersisa banyak itu. Saking niatnya walaupun kesempatan itu tidak ada, saya akan ciptakan kesempatan itu.  Bahkan berusaha menyebarkan virus enterpreneur tersebut ke orang lain. Seperti yang telah kami lakukan kepada teman-teman dari UI. Dimana selain membahas agenda yang telah ditentukan, kami pun mencoba menularkan virus tersebut. hehe

Menjelang datangnya Idul Adha banyak di jadikan kesempatan untuk berbisnis. Bisa bisnis apa saja, namun yang pasti bisnis yang paling menjanjikan biasanya seputar hewan qurban. Ketika saya berangkat kuliah di jalan yang saya lalui saja saya banyak melihat orang yang jual hewan qurban_Sapi, Domba dan Kambing.

Selain berbisnis hewan qurban, anda juga bisa berbisnis pisau dan bedog (bahasa sunda ya..hehe). Lho kok bisa? lha kan pisau itu bisa digunakan untuk menyembelih dan memotong-motong daging hewan qurban. hehehe  :) selain itu anda juga bisa jualan arang. hehe :) kan buat nyate daging.

Nah selanjutnya, hmm yang ini serius neeh..Pada hari raya Idul Adha bisnis yang bisa dilakukan adalah bisnis kulit qurban. Dulu jarang orang yang tahu sehingga jarang orang yang berbisnis kulit qurban ini. Mereka yang berqurban biasanya jijik terhadap kulit hewan qurban tersebut karena baunya itu. Sehingga untuk mendapatkannya mudah dan murah karena itu tadi orang merasa jijik.

Namun sekarang berbeda situasinya, karena mereka yang berqurban sekarang sudah tahu keuntungan yang bisa didapatkan dari kulit qurban itu. Sehingga susah untuk mendapatkannya dan mahal, apalagi di tambah dengan banyaknya orang yang menjadi pedagang kulit qurban dadakan.

Berbicara tentang bisnis kulit qurban ini, untuk Daerah Jawa Barat biasanya di kuasai oleh pengusaha-pengusaha besar yang memang sehari-harinya mereka adalah para pemain yang berbisnis kulit Sapi, Kambing dan Domba. Beberapa pengusaha itu diantaranya berdomisili di Wilayah III Cirebon dan di Garut.

Idul Adha nanti, merupakan pesta bagi para pengusaha tersebut karena omset yang akan didapatkan oleh mereka akan berlipat dari hari-hari biasa. Dalam prakteknya nanti mereka akan mendapatkan kulit hewan qurban dari pedagang-pedagang kecil menengah di berbagai daerah dan disamping itu juga mereka akan menyebar anah buah mereka untuk mencari kulit hewan qurban.

Di Idul Adha nanti akan muncul hal-hal yang menarik, mulai dari adu strategi, perang harga dll semua itu dilakukan untuk mendapatkan kulit hewan qurban. Biasanya yang menang adalah mereka yang kuat dananya dan didukung oleh harga yang bagus. Namun yang cerdik adalah mereka yang mendapatkan kulit qurban banyak tanpa mengeluarkan dana yang besar.  Perlu anda ketahui di bisnis kulit ini ada ungkapan atau pepatah yang terkenal yaitu “Padagang kulit yang hebat adalah mereka yang mendapatkan kulit tanpa duit”, saya tidak tahu apakah ungkapan atau pepatah itu masih berlaku atau tidak. hehe:)

Bagi anda yang tertarik untuk mencoba untuk bisnis kulit hewan qurban silakan, hanya sesaat ketika Idul Adha saja. Namun bagi anda yang tertarik untuk menjadi bisnis kulit selamanya untuk menghidupi keluarga misalnya, itu juga silakan, tapi perlu saya sampaikan bahwa katanya bisnis kulit saat ini sedang lesu akibat dari peraturan pemerintah tentang ekspor “kulit setengah jadi atau jadi” kurang mendukung atau bahkan tidak mendukung pedagang kelas kecil menengah. Sebenarnya saya tidak tahu isi peraturan tersebut namun keterangan itu saya dapatkan dari beberapa pedagang kulit. Kalau anda mengetahui peraturan tentang ekspor “kulit setengah jadi atau jadi” saya berharap anda mengirimkan filenya ke email saya. thx