Diriku adalah rival abadiku
Minggu, Juli 8, 2007
Pengalaman adalah guru terbaik, itulah salah satu nasehat tentang kehidupan. Pengalaman lahir dari momen sejarah perjalanan hidup yang membekas, mempunyai makna mendalam yang tidak pernah terlupakan. Sehingga dengan pengalaman itu akan membuat kita lebih bijak.
Banyak hal yang saya pelajari dari pengalaman, salah satunya “Diriku adalah rival abadiku”. Sebuah kalimat yang begitu berharga bagi saya. Jauh sebelum menyadarinya, saya menganggap “Sesuatu” yang mengganggu dan menghalangi ‘jalan’ saya menuju tujuan adalah rival bahkan lebih ekstrim lagi musuh yang harus dikalahkan sehingga hanya seorang “Pemenang” yang layak mendapatkan “penghargaan”. Namun pada realisasinya saya terjebak dengan “sesuatu” itu. Saya mendefinisikan “sesuatu” itu dengan manusia/orang, sebuah definisi yang kurang lengkap. Al Hasil kehidupan saya diwarnai paradigma itu, ketika masa sekolah saya menganggap semua orang adalah rival dalam mengejar prestasi, ketika bermain (bola, kelereng dll) dengan temen-temen, saya selalu ingin menjadi pemenang dan banyak lagi contoh lainnya dimana saya selalu ingin menjadi pemenang.
Sebuah Paradigma yang bagus kalau diterapkan untuk hal yang positif, namun akan riskan dikemudian hari ketika terjun ke tengah-tengah masyarakat.
Sampai tiba saatnya ketika masa-masa SMA ujian datang silih berganti mulai mengusik kehidupan saya, bermacam masalah datang menghampiri seolah-olah sengaja menantang. Diri ini kaget menghadapi semua persoalan yang datang dan saya tidak tahu “siapa” rival atau musuh yang mengganggu diri ini sehingga saya tidak tahu “siapa” yang harus dikalahkan karena sebelumnya saya mendefinisikan “sesuatu” itu adalah manusia/orang. Waktu itu saya bersikap reaktif, hingga prestasi semasa SMA kelas 3 menurun drastis.
Banyak guru bertanya tentang apa yang terjadi dengan saya, namun dengan defend saya menjawab “saya baik-baik saja”. Hingga suatu hari saya dipanggil ke kantor oleh salah seoarang guru BK, beliau tidak bertanya tapi menasehati saya bahwa “semua permasalahan sumbernya dari diri sendiri, dan pemecahannya tergantung dari cara kita menyikapinya.”
Sejak saat itu saya sadar bahwa ada yang salah dengan diri ini. Kemudian secara perlahan namun pasti saya dapat menyelesaikan permasalahan tersebut.
Sebuah pelajaran berharga yang saya dapatkan dari pengalaman bahwa semua permasalahan bersumber dari diri sendiri. Dan sejak saat itu saya menyatakan bahwa “Sesuatu” yang harus dijadikan rival itu adalah semua hal negatif yang berasal dari diri sendiri seperti sikap negatif, sifat negatif dan lain-lain yang berasal dari nafsu yang buruk. Sehingga paradigma lama saya tergeser oleh paradigma baru yaitu : “Diriku Adalah Rival Abadiku”. Karena “sesuatu” yang berada didalam dirilah yang lebih penting, karena semua yang berada diluar diri itu akan menjadi masalah ataupun tidak, apakah itu mengganggu ataupun tidak itu tergantung dari sikap dan cara pandang kita.